18/10/2026
“Aku cemas karena Ocha masih belum sehat benar, Mi. Dia harus banyak istirahat dan minum obat, tapi sekarang aku malah nggak tahu Ocha ada di mana. Nanti kalau dia kenapa-kenapa, gimana?”
============================
“Kalau begitu saya antar saja.” Spontan kalimat itu melompat dari bibir Arman karena didorong perasaan iba melihat seorang wanita yang baru saja keguguran hendak p**ang sendirian.
Bagaimana nanti kalau tiba-tiba ia pingsan di jalan?
Lihat saja wajahnya yang pucat dan jalannya yang tertatih-tatih.
Ocha kaget mendengar tawaran sang dokter. Ia menatap dokter setengah baya itu.
Tanpa jas putih, Dokter Arman tampak santai, Ia hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana kain.
Wajahnya teduh, kata-kata dan tindak-tanduknya sopan.
“Terima kasih, Dok. Nggak usah. Nanti merepotkan.” Ocha ragu, padahal dalam hati ingin menerima tawaran itu supaya bisa lebih cepat pergi dari rumah sakit ini.
Semakin lama Ocha berdiri di lobby kemungkinan untuk disusul Arka makin besar.
“Nggak ada yang repot. Hari ini saya bebas tugas. Besok libur. Jadi saya leluasa mengantar ibu,” terang Arman tenang meskipun batinnya sedikit terusik.
Tidak etis bagi seorang dokter untuk ikut campur dalam masalah personal pasiennya di luar konteks perawatan kesehatan.
Tapi Arman tidak tega melihat Ocha harus pergi sendirian tanpa tujuan menggunakan taksi online.
Apalagi Arman yakin Ocha tidak hendak p**ang ke rumahnya.
“Cha, semua sudah beres. Ayo kita siap-siap p**ang…” ucap Arka sambil membuka pintu kamar tempat Ocha dirawat.
Ia tertegun. Pembaringan Ocha kosong.
“Cha… kamu di dalam?” Arka mengetuk pintu kamar mandi.
Pintu itu mengayun terbuka. Tidak ada orang di dalam toilet.
Arka berbalik dan memandang berkeliling. Kemana Ocha? Jangan-jangan…
Buru-buru Arka menarik laci nakas di samping tempat tidur. Tempat Ocha menaruh barang-barang pribadinya itu kosong.
Tas, dompet dan ponsel milik Ocha yang semula tersimpan di sana telah lenyap.
Arka terduduk lemas di tepi ranjang rumah sakit. Jelas Ocha sudah pergi.
Tapi kemana?
Pasti ia sangat marah sampai nekat menghilang tanpa pamit seperti ini.
Arka menarik ponsel dari saku celananya. Mencoba menghubungi Ocha. Nada sambung terdengar.
Angkat, Cha. Angkat. Harap Arka dalam hati.
Tapi sampai lima kali ia berusaha menghubungi Ocha, teleponnya tetap tak terjawab.
Pesan yang dikirimkannya juga tak berbalas.
Arka berlari keluar kamar. Berbelok menuju lift. Berpacu dengan waktu menuju lobby.
Mudah-mudahan Ocha masih ada di sana.
Tapi cuma Rinta yang Arka temui di lobby.
Dengan wajah masam Rinta segera menghampiri Arka yang sedang melongok ke kanan dan kiri, mencari isterinya.
“Kenapa lama banget, Ka?” tanya Rinta. “Mana dia? Istrimu perlu dandan dulu? Atau minta dibawakan kursi roda? Awas kamu jangan mau disuruh-suruh begitu. Kebiasaan jelek!”
“Ocha pergi, Mi,” keluh Arka sambil menarik rambutnya frustrasi.
Kenapa Ocha dan mami sulit sekali dimengerti?
Ada-ada saja kelakuan mereka yang membuat pening Arka.
Bila sendiri-sendiri mami dan Ocha sama-sama manis. Tapi kalau sedang berhadapan seakan mau pecah perang dunia.
“Pergi gimana? Dia p**ang duluan? Nggak mau bareng mami?”
“Nggak tahu, Mi. Waktu aku datang, kamarnya sudah kosong. Apa mungkin Ocha p**ang duluan?”
Arka berharap begitu.
Tidak apa-apa kalau Ocha ngambek lalu memutuskan p**ang sendiri.
Bagaimanapun di rumah lebih aman daripada tempat lain.
“Pastilah. Mau pergi kemana lagi dia? Ke tempat orangtuanya di Surabaya? Nggak mungkin. Sudah, kamu nggak usah cemas! Begitulah kalau salah pilih istri. Kamu sendiri yang akhirnya makan hati.”
“Aku cemas karena Ocha masih belum sehat benar, Mi.
Dia harus banyak istirahat dan minum obat, tapi sekarang aku malah nggak tahu Ocha ada di mana.
Nanti kalau dia kenapa-kenapa, gimana?"
Novel Bukan Karena Tak Cinta
bab 10 part 1
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan