Graha Kosmetik

Call Directions Website Contact the business

Graha Kosmetik Tempat cerita-cerita dan skincare pilihan

“Aku cemas karena Ocha masih belum sehat benar, Mi. Dia harus banyak istirahat dan minum obat, tapi sekarang aku malah n...
18/10/2026

“Aku cemas karena Ocha masih belum sehat benar, Mi. Dia harus banyak istirahat dan minum obat, tapi sekarang aku malah nggak tahu Ocha ada di mana. Nanti kalau dia kenapa-kenapa, gimana?”

============================

“Kalau begitu saya antar saja.” Spontan kalimat itu melompat dari bibir Arman karena didorong perasaan iba melihat seorang wanita yang baru saja keguguran hendak p**ang sendirian.

Bagaimana nanti kalau tiba-tiba ia pingsan di jalan?

Lihat saja wajahnya yang pucat dan jalannya yang tertatih-tatih.

Ocha kaget mendengar tawaran sang dokter. Ia menatap dokter setengah baya itu.

Tanpa jas putih, Dokter Arman tampak santai, Ia hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana kain.

Wajahnya teduh, kata-kata dan tindak-tanduknya sopan.

“Terima kasih, Dok. Nggak usah. Nanti merepotkan.” Ocha ragu, padahal dalam hati ingin menerima tawaran itu supaya bisa lebih cepat pergi dari rumah sakit ini.

Semakin lama Ocha berdiri di lobby kemungkinan untuk disusul Arka makin besar.

“Nggak ada yang repot. Hari ini saya bebas tugas. Besok libur. Jadi saya leluasa mengantar ibu,” terang Arman tenang meskipun batinnya sedikit terusik.

Tidak etis bagi seorang dokter untuk ikut campur dalam masalah personal pasiennya di luar konteks perawatan kesehatan.

Tapi Arman tidak tega melihat Ocha harus pergi sendirian tanpa tujuan menggunakan taksi online.

Apalagi Arman yakin Ocha tidak hendak p**ang ke rumahnya.



“Cha, semua sudah beres. Ayo kita siap-siap p**ang…” ucap Arka sambil membuka pintu kamar tempat Ocha dirawat.

Ia tertegun. Pembaringan Ocha kosong.

“Cha… kamu di dalam?” Arka mengetuk pintu kamar mandi.

Pintu itu mengayun terbuka. Tidak ada orang di dalam toilet.

Arka berbalik dan memandang berkeliling. Kemana Ocha? Jangan-jangan…

Buru-buru Arka menarik laci nakas di samping tempat tidur. Tempat Ocha menaruh barang-barang pribadinya itu kosong.

Tas, dompet dan ponsel milik Ocha yang semula tersimpan di sana telah lenyap.

Arka terduduk lemas di tepi ranjang rumah sakit. Jelas Ocha sudah pergi.

Tapi kemana?

Pasti ia sangat marah sampai nekat menghilang tanpa pamit seperti ini.

Arka menarik ponsel dari saku celananya. Mencoba menghubungi Ocha. Nada sambung terdengar.

Angkat, Cha. Angkat. Harap Arka dalam hati.

Tapi sampai lima kali ia berusaha menghubungi Ocha, teleponnya tetap tak terjawab.

Pesan yang dikirimkannya juga tak berbalas.

Arka berlari keluar kamar. Berbelok menuju lift. Berpacu dengan waktu menuju lobby.

Mudah-mudahan Ocha masih ada di sana.

Tapi cuma Rinta yang Arka temui di lobby.

Dengan wajah masam Rinta segera menghampiri Arka yang sedang melongok ke kanan dan kiri, mencari isterinya.

“Kenapa lama banget, Ka?” tanya Rinta. “Mana dia? Istrimu perlu dandan dulu? Atau minta dibawakan kursi roda? Awas kamu jangan mau disuruh-suruh begitu. Kebiasaan jelek!”

“Ocha pergi, Mi,” keluh Arka sambil menarik rambutnya frustrasi.

Kenapa Ocha dan mami sulit sekali dimengerti?

Ada-ada saja kelakuan mereka yang membuat pening Arka.

Bila sendiri-sendiri mami dan Ocha sama-sama manis. Tapi kalau sedang berhadapan seakan mau pecah perang dunia.

“Pergi gimana? Dia p**ang duluan? Nggak mau bareng mami?”

“Nggak tahu, Mi. Waktu aku datang, kamarnya sudah kosong. Apa mungkin Ocha p**ang duluan?”

Arka berharap begitu.

Tidak apa-apa kalau Ocha ngambek lalu memutuskan p**ang sendiri.

Bagaimanapun di rumah lebih aman daripada tempat lain.

“Pastilah. Mau pergi kemana lagi dia? Ke tempat orangtuanya di Surabaya? Nggak mungkin. Sudah, kamu nggak usah cemas! Begitulah kalau salah pilih istri. Kamu sendiri yang akhirnya makan hati.”

“Aku cemas karena Ocha masih belum sehat benar, Mi.
Dia harus banyak istirahat dan minum obat, tapi sekarang aku malah nggak tahu Ocha ada di mana.
Nanti kalau dia kenapa-kenapa, gimana?"

Novel Bukan Karena Tak Cinta
bab 10 part 1
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

Mimpi buruk Marlina justru dimulai pada tengah hari. Saat ponselnya berdering dan sederet nomor tidak dikenal muncul di ...
18/10/2026

Mimpi buruk Marlina justru dimulai pada tengah hari. Saat ponselnya berdering dan sederet nomor tidak dikenal muncul di layarnya.

Sesaat Marlina terdiam memandang ponselnya. Menimbang-nimbang.

Biasanya dia tidak pernah menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.

Tapi entah mengapa saat itu ibu jarinya menekan tombol penerima.

“Saya Ratri dari Rumah Sakit, Bu. Bapak Rafan ada di ruang gawat darurat. Harap ibu segera datang ke rumah sakit.”

Tubuh Marlina menegang.
Waspada.
Apa ini penipuan?

Sudah berulang kali Marlina membaca di berbagai media modus seperti ini.

Penipu yang berpura-pura sebagai dokter atau tenaga kesehatan.

Mengabarkan ada keluarga yang mendadak di rawat di rumah sakit, dan ujung-ujungnya minta transfer sejumlah da na.

“Jangan bohong kamu! Saya nggak percaya. Suami saya baik-baik saja.
Dia sedang kerja di kantor.
Jadi kamu jangan coba-coba menipu saya ya. Jahat sekali mencari uang dengan menipu orang lain!”

Terdengar helaan napas dari orang yang mengaku bernama Ratri itu.

“Saya nggak bohong, Bu. Begini saja. Saya kirimkan foto bapak. Nanti ibu bisa langsung datang saja ke rumah sakit. Selamat siang.”

Panggilan telepon terputus. Disusul denting halus notifikasi dari aplikasi WA.

Gemetar seluruh tubuh Marlina melihat beberapa foto yang dikirim Ratri. Sampai hampir jatuh ponsel dalam genggamannya.

Ternyata Ratri sama sekali tidak bohong.

Rafan sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Selimut putih menutup hingga dadanya.

Wajah Rafan begitu pucat. Matanya terpejam erat. Tidur atau pingsan? Marina tidak tahu.

Buru-buru Marlina menelepon balik nomor yang tertera di pesan WA itu,

“A-apa…? K-kenapa…? Gimana kondisi Rafan?”

Terbata-bata ucapannya. Otaknya seperti macet. Tidak mampu berpikir.

Apa yang terjadi?

Tadi pagi Rafan baik-baik saja. Mereka sarapan bersama sebelum Rafan berangkat kerja.

Kenapa sekarang Rafan ada di rumah sakit?

Kecelakaan lalu-lintas?

“Saya tidak berwenang menjelaskan, Bu. Dokter yang merawat Bapak Rafan hanya berpesan supaya ibu segera datang ke rumah sakit,” jawab Ratri, masih dengan nada datar.

“Dan ibu tidak perlu mengirimkan ua ng atau tran fer ke reken ing manapun.”

“Baik. Saya segera ke sana. Terima kasih,” ucap Marlina, lalu menutup teleponnya.

Tanpa sadar, Marlina menggenggam erat sofa di sampingnya. Berusaha menghimpun kekuatan agar ia bisa tetap tegak berdiri.

Satu tangannya membelai perutnya yang membukit. Ini kehamilan pertama Marlina setelah dua tahun menikah dengan Rafan.

Tiba-tiba saja perutnya terasa kencang.

Kontraksi?

Tidak!

Jangan!

Belum waktunya sekarang.

Menurut perhitungan dokter masih bulan depan ia baru akan melahirkan anak pertamanya.

“Sabar ya, Dek. Jangan lahir dulu. Mama harus mengurus Papa di rumah sakit sekarang,” ucap Marlina pelan sambil mengusap-usap lembut perutnya.

Bayi dalam kandungan Marlina seperti mengerti permintaan mamanya. Rasa kencang di perutnya mereda.

Marlina menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum menyambar tas dan bergegas keluar.

Di ruang IGD, Marlina langsung menghampiri Rafan yang terbaring tak berdaya.

“Kamu kenapa, Fan…?” Lirih Marlina bertanya. Ia mengguncang pelan lengan Rafan. Berharap Rafan segera terbangun.

Tentu saja pertanyaan Marlina tak terjawab. Rafan tetap diam walaupun Marlina mengguncang pelan tangannya.

Apa yang terjadi? Padahal tadi pagi Rafan baik-baik saja.

“Bangun, Fan. Kamu janji mau antar aku ke dokter kandungan.” Suara Marlina bergetar penuh kesedihan.

“Ayo, bangun. Sebentar lagi anak kita lahir. Kamu bilang mau mendampingi aku di ruang melahirkan. Aku takut sendirian di sana….”

Marlina meremat jemari Rafan. Mengharapkan mujizat datang dan Rafan langsung membuka matanya.

“Selamat siang, Ibu Marlina.”

Marlina terlonjak kaget mendengar sapaan itu.

Ia berpaling cepat dan melihat seorang pria memakai jas putih memasuki ruangan diikuti wanita yang mengenakan baju perawat.

Novel Saat Kau Tak Sadar
Part 1
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

‎"Astaga..." Elena tidak tahu harus menangis atau tertawa. Masa' sih kotak kado itu dicurigai sebagai bahan terlarang?‎‎...
18/10/2026

‎"Astaga..." Elena tidak tahu harus menangis atau tertawa. Masa' sih kotak kado itu dicurigai sebagai bahan terlarang?
‎
‎"Suami saya punya toko suvenir dan kado, Pak. Kotak ini pesanan dari pembeli. Isinya boneka."
‎
‎Tentu saja Wira tidak percaya begitu saja pada keterangan Elena. Dia memberi kode pada anak buahnya. “Periksa, Don.”
‎
‎Seorang polisi muda dengan tubuh tinggi dan langsing mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Perlahan dia membuka kotak kado yang ditemukannya di mobil Elena.
‎
‎“Saya sudah bilang ‘kan, Pak. Isinya cuma boneka," tutur Elena dengan lega melihat isi kotak itu ternyata boneka panda imut yang biasa dijadikan teman tidur anak-anak.
‎
‎Elena melihat empat orang polisi itu bertukar pandang. Rupanya mereka belum selesai memeriksa. Wira mengangguk dan pisau lipat anak buahnya kembali beraksi.
‎
‎Tanpa sadar Elena menahan napasnya menyaksikan pisau itu terhunus dan menusuk dada boneka, lalu bergerak merobek hingga bagian depan boneka itu terbuka lebar. Petugas menarik keluar dakron pengisi boneka.
‎
‎Mata Elena terbelalak melihat puluhan plastik klip bening dikeluarkan dari dalam boneka itu. Plastik-plastik berisi bubuk putih. Bibir Elena terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan.
‎
‎“Tidak! Ini tidak mungkin!” bisiknya pelan. Dingin mencengkeram hati Elena. Kalau bubuk putih itu benar-benar narkoba, pasti dia dalam kesulitan yang sangat besar. “Saya tidak tahu apa-apa, Pak,” Elena mulai menjerit. Tangisnya pecah. “Sumpah, saya tidak tahu!”
‎
‎“Tenang, Bu. Kita periksa dulu semuanya.” Nada dingin dalam suara Wira menghentikan teriakan Elena. Dengan bibir terkatup dia menyaksikan anak buah Wira mengumpulkan plastik-plastik itu dan menulis laporan.
‎
‎Proses interogasi dilanjutkan. Wira menanyakan bagaimana kotak itu bisa ada di tangan Elena. Terus-terang Elena menceritakan semuanya.
‎
‎“Jadi suami anda yang minta kotak itu diantarkan?”
‎
‎
‎Bab 2 part 2
‎
‎Novel Pembalasan Istri Setelah Dipenjara
‎bisa dibaca di KBM App
‎akun dewi_muliyawan
‎
‎
‎

SEPULUH TAHUN AKSAN PERGI MENINGGALKAN ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA, KINI IA KEMBALI UNTUK MEMOHON MAAFMemohon Maafmu ‎Part 5“...
18/10/2026

SEPULUH TAHUN AKSAN PERGI MENINGGALKAN ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA, KINI IA KEMBALI UNTUK MEMOHON MAAF

Memohon Maafmu ‎Part 5

“Pak, tolong saya, Pak…. Saya sudah keliling, ke perpustakaan, ke kantin, ke taman belakang, tapi Hana dan Tama nggak ada.

“Bapak benar-benar nggak melihat Hana dan Tama keluar dari gerbang ini?

“Apa ada lelaki yang menjemput Hana dan Tama?

“Anak-anak saya hilang!” Bergetar suara Salma. Ia berusaha keras untuk tidak menangis.

“Ibu tenang dulu, Bu. Kami pasti tolong-”

“Nggak, Pak. Saya nggak bisa tenang. Jangan-jangan Hana dan Tama dibawa pergi orang.
“Tolong bantu saya mencari anak-anak, Pak. Tolong saya….” Salma benar-benar panik.

“Tenang, Bu… Tenang… Ibu duduk dulu di sini.

”Satpam itu membimbing Salma ke tempat duduk yang terletak di dekat gardu penjagaan.

“Ibu sudah coba telepon mereka?”

“Handphone saya mati.” Salma mulai tidak sabar.

Seharusnya petugas-petugas satpam ini langsung saja bergerak mencari Hana dan Tama.

Pertanyaan-pertanyaan mereka hanya membuang waktu, padahal setiap detik begitu berharga.

Anak-anaknya bisa semakin jauh.

“Handphone saya mati. Baterainya habis. Kalau masih nyala, pasti saya telepon mereka!”

“Ibu hafal nomor mereka kan? Pakai saja handphone saya.” Petugas satpam itu menyodorkan gawainya.

Gemetar ibu jari Salma saat mengetikkan nomor ponsel Tama di gawai Pak Satpam.

“Tante Salma. Cari Hana ya?”

Gerakan jari Salma terhenti oleh sapaan seorang anak perempuan. Ia segera mengenali Icha, teman sekelas Hana.

“Iya, Cha. Tante terlambat jemput Hana.
Hape Tante mati jadi nggak bisa menghubungi dia.
Kamu tahu Hana ada di mana?” tanya Salma cemas.

“Hana sama Kak Tama ada di restoran seberang itu, Tante.” Telujuk Icha mengarah pada restoran steak yang terletak di seberang sekolah.

“Tadi Icha lihat mereka sedang makan di sana.”

Lega sekali Salma mendengar keterangan Icha. Seolah beban berat terangkat dari pundaknya.

Ia menyusut titik-titik keringat di dahinya. Ternyata Lita sudah salah menduga. Aksan sama sekali tidak mengganggu anak-anaknya.

Tapi ada yang aneh. Selama ini belum pernah anak-anaknya menunggu di restoran itu. Restoran yang agak mahal menurut ukuran kantong Salma.

Mungkin saja Salma mampu membelikan mereka makanan di restoran itu, tapi masih banyak keperluan lain.

Salma harus menabung untuk biaya sekolah anak-anaknya. Salma ingin mereka menuntut ilmu sampai perguruan tinggi.

Dan biaya kuliah sekarang sama sekali tidak murah. Apalagi saat anak-anak kuliah nanti.

Untungnya Hana dan Tama juga tidak pernah menuntut Salma untuk membelikan makanan dari restoran itu.

Mereka sangat mengerti bahwa sebagai orangtua tunggal, Salma sudah bekerja keras memenuhi kebutuhan mereka.

Hana dan Tama tumbuh menjadi anak-anak yang peka. Mereka tidak pernah menuntut untuk diajak makan di restoran-restoran mahal. Tidak pernah meminta lebih daripada yang Salma mampu.

Tapi kali ini kenapa mereka menunggu di restoran yang mahal itu? Jangan-jangan… Dengan langkah lebar-lebar Salma menyeberang jalan. Mencari anak-anaknya.

***

Melihat kepergian Salma dan anak-anaknya, rasa penasaran Aksan terusik.

Ia ingin tahu tempat anak-anaknya menuntut ilmu.

Merasa pasti Salma pasti tidak akan memberi tahu dengan s**a rela, diam-diam Aksan mengikuti motor Salma.

Hati-hati Aksan menjaga jarak.
Tidak terlalu dekat supaya Salma tidak mengetahui kelakuannya.
Tapi juga tidak terlalu jauh hingga ia ketinggalan jejak mantan istrinya.

Beberapa puluh meter dari sekolah Hana dan Tama, Aksan menghentikan mobilnya.

Terenyuh Aksan saat mengamati anak-anaknya mencium tangan Salma sebelum mereka berlari memasuki gerbang sekolah.

Seandainya saja ia tidak mengambil keputusan bodoh, seharusnya Aksan berada di sisi Salma. Ikut menerima salam dari anak-anaknya.

Mungkin ia akan membisikkan kata-kata pembangkit semangat agar Hana dan Tama rajin belajar.

Salma nggak bisa melarangku bertemu dengan anak-anak. Biar bagaimana pun Hana dan Tama juga anak-anakku, tekad Aksan dalam hati.

Novel Memohon Maafmu
Bab 5
Bisa dibaca di KBM app
Akun dewi_muliyawan

‎"Hueeek.... Hueek...." Ocha terbungkuk-bungkuk di atas wastafel. dengan tangan menekan perut. ‎‎‎"Eh, kamu kenapa sayaa...
17/10/2026

‎"Hueeek.... Hueek...." Ocha terbungkuk-bungkuk di atas wastafel. dengan tangan menekan perut.
‎
‎
‎"Eh, kamu kenapa sayaaang…?" Kening Arka berkerut. Cemas. Buru-buru ia meletakkan roti panggang yang baru digigitnya ke piring. Sigap, ia menghampiri lalu memijat lembut bahu Ocha.
‎
‎
‎"Nggak tahu nih, Ka. Mendadak perutku mual. Pusing,” keluh Ocha memelas sambil menekan-nekan pelipisnya.

Wajahnya yang tirus kehilangan rona pagi ini. Pipinya pucat pasi. Ada titik-titik keringat di hidungnya yang mancung.
‎
‎
‎"Kamu masuk angin barangkali…" Arka menduga. Prihatin melihat Ocha yang kembali menumpahkan isi lambungnya ke wastafel.

Ia memegang rambut hitam Ocha yang sepunggung agar tidak terkena cipratan cairan lambungnya.
‎
‎
‎"Masa' sih bangun tidur bisa langsung masuk angin?" tanya Ocha dengan mata terpejam.

Berharap rasa mualnya bisa berkurang bila ia tidak melihat apa-apa.
‎
‎
‎Arka s**a sekali melihat Ocha memejamkan matanya. Melihat bulu mata isterinya, yang lentik itu nyaris bertaut.

Tapi kali ini ia tidak sempat menikmati pemandangan indah itu. Telaten sekali Arka membersihkan sudut-sudut bibir Ocha dengan tisue.
‎
‎
‎"Apa AC di kamar kita terlalu dingin? Jadi kamu masuk angin. Atau jangan-jangan kamu kena maag, Yang?” Arka kembali menerka-nerka sambil membimbing Ocha untuk kembali duduk di kursi makan.
‎
‎
‎“Bisa jadi…” jawab Ocha singkat masih dengan mata terpejam.

Ia menyandarkan kepala di dada Arka. Membiarkan jemari Arka mengusap-usap helai-helai rambutnya.

Ternyata berada dalam dekapan Arka lumayan mengurangi rasa pening Ocha.
‎
‎
‎“Bisa jadi yang mana, Cha? AC yang terlalu dingin atau kamu kena maag karena sering terlambat makan?”
‎
‎
‎“Iiiih… BAU APA INI…?!” Bukannya menjawab pertanyaan Arka, Ocha malah mendadak melompat berdiri.

Matanya membelalak lebar. Ia bahkan mendorong Arka menjauh.

Dua tangan Ocha mendekap hidung dan mulutnya erat.
‎
‎
‎“Bau apa, Cha? Aku nggak cium bau apa-apa.” Arka kaget.

Langsung ia mengendus ke kanan dan kiri. juga mengarahkan hidungnya ke arah atas, supaya bisa mendeteksi bau lebih baik.

Bahkan Arka sampai melongok-longok ke bawah meja. Barangkali saja sumber bau itu ada di sana.

Apa mungkin ada b4ngkai tikus terperangkap di dapur rumahnya yang mungil ini?
‎
‎
‎Tapi mustahil. Rumah mereka berada di cluster modern perumahan yang lumayan elite.

Hampir sebulan mereka tinggal di sini, tepatnya setelah resepsi pernikahan mereka, dan selama itu p**a tidak ada seekor pun tikus, kecoa atau lalat yang pernah mampir ke dalam rumah.
‎
‎
‎“Serius, aku nggak cium bau nggak enak, Cha.” Sepasang alis tebal Arka nyaris bertaut. Bingung memandang Ocha yang lagi-lagi membungkuk di wastafel.

Sungguh, indera penciuman Arka hanya mendeteksi aroma sedap kopi, roti bakar dan telur goreng. Menu sarapan mereka pagi ini.
‎
‎
‎“Kamu pakai parfum apa sih?! Baunya nggak enak banget!” Suara Ocha sengau karena jempol dan telunjuknya menekan hidung.
‎
‎
‎Arka kaget setengah mati. Masa’ sih ia bau badan? Begitu bangun tidur tadi, Arka langsung mandi dan gosok gigi. Baru turun ke ruang makan.
‎
‎
‎Ragu, Arka menarik bagian depan kemejanya ke hidung. Wangi. Aroma parfum maskulin menguar dari tubuhnya.
‎
‎
‎“Ini… aku…. pakai parfum favorit kamu, Cha. Masa’ sih nggak enak. ‘Kan kamu sendiri yang belikan.”

Arka mendekati Ocha sambil tetap menarik kemejanya. Seolah ingin Ocha menghidu pakaiannya untuk membuktikan kebenaran kata-kata Arka.
‎
‎Novel Bukan Karena Tak Cinta
‎bisa dibaca di KBM App
‎akun dewi_muliyawan
‎
‎

NIAT BAIK LETISHA MENOLONG SAHABATNYA TERNYATA MALAH MEMBUAT RUMAH TANGGANYA HANCUR__________________________SAHABAT YAN...
16/10/2026

NIAT BAIK LETISHA MENOLONG SAHABATNYA TERNYATA MALAH MEMBUAT RUMAH TANGGANYA HANCUR
__________________________

SAHABAT YANG MEREBUT SUAMIKU
Bab 5: Keluar Kota

“Ella enggak sakit kok Tante,” jawab bocah cantik itu dengan wajah serius. “Ella sehat dan kuat…” dia mengangkat tangannya seperti atlet binaraga yang sedang memamerkan otot.

“Ooo… bagus d**g kalau Ella sehat dan kuat,” ujarku sembari menepis rasa bingung. Ini siapa yang benar ya… Kata Tia tadi Ella sakit. “Ini Tante bawa kue untuk Ella dan Ello.”

“Horeee….! Terima kasih Tante Tisah…” Ella bersorak lalu menerima bingkisan dari tanganku. Agak keberatan dia membawa kue-kue itu ke dalam. “Mama… kita dikasih kue nih sama Tante Tisha…”

“Eh, Tisha, sory ya, aku sedang di kamar mandi…” Mendadak Mutiara muncul dari ruangan dalam. Rambutnya yang masih basah digelung di puncak kepala dan dijepit. Ada titik-titik air tersisa di leher dan pipinya. Wajahnya tampak cantik dan segar sekali. Mungkin kalau Mutiara mengaku masih single, banyak orang akan percaya.

Diam-diam aku melirik Janu. Pria di sampingku ini bagaikan sedang tersihir pesona Mutiara. Dia menatap penuh arti ke arah sahabatku itu. Kusentuh pelan pinggangnya dengan siku tanganku. Spontan Janu gelagapan.

“Eh… oh… ada apa, Sha?” tanyanya pelan. Matanya kini memandangku lekat. Tentu saja tanpa sorot mendamba seperti tadi.

“Ngapain sih ngeliatin Tia kayak gitu?” aku melotot. Mumpung Mutiara sedang mengurus kue-kue yang dibawa Ella, aku jadi bisa langsung menegur Janu.

“Ngeliatin seperti apa? Aku biasa aja kok… Kamu ini terlalu sensitif,” Janu mengelak dengan luwes.

Melihat Mutiara sudah datang menyongson kami, aku segera menghentikan perdebatan. Tapi sempat aku melemparkan sorot protes pada Janu. Lihat saja kalau dia masih melihat Mutiara seperti kucing memandang ikan, nanti malam aku akan membahas masalah ini habis-habisan.

Untungnya selama bertamu Janu bersikap normal. Seperti ingin menghindari konflik, dia lebih banyak bermain dengan Ello dan Ella di atas karpet. Sementara aku dan Mutiara mengobrol di sofa.

“Ella sakit apa, Tia?”

“Mmm… hanya demam sedikit. Tadi sudah kuberi obat dan panasnya langsung turun.”

“Syukurlah… mungkin karena cepat sembuh, tadi Ella bilang dia sehat dan kuat…” ucapku sambil tertawa mengingat gaya Ella yang menggemaskan.

“Yah anaknya memang begitu, Tish. Paling tidak mau dibilang sakit. Saat kurang sehat saja dia sering masih ngotot ingin sekolah dan main.” Pandangan Mutiara menerawang ke arah Ella dan Ello yang sedang tertawa-tawa dengan Janu. Ada sesuatu yang sulit digambarkan pada sorot matanya. Seperti kerinduan pada sosok suami dan ayah anak-anaknya?

Benarkah begitu? Atau aku yang cemburu pada keriaan Janu dengan anak-anak Mutiara? Sesuatu yang sampai saat ini belum bisa kuberikan untuk Janu. Mendadak dadaku terasa sesak karena menginginkan anak-anak seperti Ella dan Ello.

“Eh, sori ya, Tia. Aku baru ingat ada janji menelepon temanku. Enggak bisa lama-lama nih. Aku pamit dulu…” Lalu aku mengeraskan suaraku agar Janu mendengar dengan jelas. “Sayang… aku ada perlu nih. Kita p**ang dulu ya…”

“Yaah… kok sebentar sekali berkunjungnya, Tish? Anak-anak baru asik main tuh…” ucap Mutiara seakan menyesaliku karena menghentikan saat-saat menyenangkan bagi Ela dan Elo.

“Oh, kalau Janu sedang senggang, biar dia di sini saja dulu, main dengan Ela dan Elo…” tawarku walau hatiku tidak rela. Ada rasa bersalah menyusup di hatiku. Merasa egois karena tidak mau memberikan sedikit waktu Janu untuk Ela dan Elo. Kasihan kan mereka, telah lama kehilangan figur seorang ayah. Tapi bagaimana d**g? Sesuatu dalam hatiku berbisik untuk tidak membiarkan Janu terlalu lama berada di rumah ini bersama Mutiara.

Bisa dibaca di KBM App
Sahabat yang Merebut Suamiku
dewi_muliyawan

‎Hari ini aku masih dalam suasana berkabung. Baru seminggu yang lalu Papa pergi untuk selama-lamanya. Dengan setengah ha...
15/10/2026

‎Hari ini aku masih dalam suasana berkabung. Baru seminggu yang lalu Papa pergi untuk selama-lamanya. Dengan setengah hati kutemani Mas Arya, suamiku, sarapan. Walaupun badanku masih lemas kubuatkan roti panggang berlapis cream cheese kes**aan Mas Arya.
‎
‎“Ini kopinya, Mas,” kataku sambil meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap.
‎
‎“Melina, dengarkan baik-baik.” Mas Arya bicara dengan nada sangat serius. “Mulai sekarang seluruh rumah ini beserta isinya menjadi milikku. Begitu juga dengan apartemen di Sudirman, vila di Bali dan kondominium di Singapura,” dengan lantang Arya membaca daftar yang tertulis di kertas dalam genggamannya.
‎
‎Aku menatap Arya dengan pandangan tak percaya. “Maksud kamu apa sih, Mas?” tanyaku dengan kening berkerut dalam.
‎
‎“Melina, masa’ kamu enggak mengerti…?” tanya Arya dengan dingin. “Sebelum meninggal, Papa kamu sudah meminta aku mengelola semua h4rt4nya. Jadi otomatis sekarang, semuanya jadi milikku.”
‎
‎“Papa baru seminggu meninggal dan kamu sudah bicara soal h4rtal4?” tanyaku dengan sedih. Suasana sarapan yang seharusnya menyenangkan, jadi rusak seketika gara-gara tingkah suamiku itu.
‎
‎Memangnya Arya tidak bisa melihat mataku yang masih bengkak karena menangisi kepergian Papa? Tega-teganya Arya sudah membicarakan soal w4risan. “Soal w4risan ‘kan bisa menunggu…?”
‎
‎Papa adalah satu-satunya orangtua yang aku miliki. Mama sudah meninggal sejak aku masih bayi. Dan Papa memilih untuk tidak menikah lagi karena ingin mencurahkan seluruh cinta dan perhatiannya untukku saja.
‎
‎Papa sudah mulai s4kit-s4kitan saat aku bertemu Arya. Papa terlihat menyukai Mas Arya yang punya karakter seorang menantu idaman. Dia tampan dan bertubuh atletis. Prilakunya sangat sopan. Di depan Papa, Arya selalu memperlakukanku seperti seorang puteri.
‎
‎Ternyata semua itu palsu. Arya hanya berpura-pura baik untuk merebut semua milikku. Arya tahu, seluruh milik Papa akan jatuh ke tanganku sebagai anak tunggal.
‎
‎Arya telah berhasil menipu kami. Karena percaya pada menantunya, Papa menuliskan w4si4t dengan menunjuk Arya sebagai pengelola. Papa menilai Arya yang sudah berpengalaman dalam dunia bisnis bisa mengurus peninggalannya dengan lebih baik. Ternyata Arya justru merebut itu dari tanganku.
‎
‎Astaga, rasanya jantungku tiba-tiba berhenti berdetak. Napasku sesak. Pandanganku kabur karena air mata. Sekuat tenaga kutahan agar tidak menangis di depan Arya.
‎
‎Ternyata semua kelakuan Arya hanyalah pura-pura. Palsu. Pura-pura mencintaiku, pura-pura menghormati papa, semuanya dilakukan demi merebut w4ris4n papa. Sekarang, setelah papa meninggal, baru Arya berani membuka topengnya.
‎
‎“Tidak bisa, Melina. Mulai detik ini semua harta Papa jadi milikku. Kamu sebaiknya segera meninggalkan rumah ini.” Arya tersenyum mengejek. “Aku sudah tidak tahan lagi pura-pura bahagia denganmu. Kamu harus tahu, aku tidak pernah mencintaimu. Aku menikahimu hanya karena kamu anak konglomerat. Sekarang setelah semua harta papamu jadi milikku, lebih baik kamu keluar dari rumah ini. Percer4i4n akan segera aku urus.”
‎
‎Novel Suami Perebut VVARISAN
‎Bisa dibaca di KBM App
‎Akun dewi_muliyawan
‎
‎

DI USIA EMPAT PULUH ADA DUA KEINGINAN RAYNA YANG BELUM TERWUJUD: MENIKAH DAN PUNYA RUMAH“Kamu yakin mau beli rumah ini, ...
13/10/2026

DI USIA EMPAT PULUH ADA DUA KEINGINAN RAYNA YANG BELUM TERWUJUD: MENIKAH DAN PUNYA RUMAH

“Kamu yakin mau beli rumah ini, Na? Hidung Zayan berkerut seakan ia mencium bau yang tidak enak. Padahal mereka sedang berada di dalam rumah yang baru selesai dibangun. Hanya masih tersisa sedikit aroma cat yang menguar dalam ruangan.

“Yakin, Yan.” Berbinar-binar Rayna memandang Zayan. “Aku s**a rumah ini. Ukurannya pas. Nggak terlalu besar atau kecil.”

“Menurutku ukurannya sama sekali nggak pas. Luas rumah ini tiga puluh enam meter persegi, Na. Terlalu kecil. Cuma ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi.”

Pandangan Zayan terbentur pada dinding berwarna coklat muda. Ia berjalan dan membuka pintu belakang yang hanya beberapa langkah dari pintu depan.

“Nggak ada ruangan untuk dapur dan tempat menaruh mesin cuci. Nanti kamu masak dimana? Mau mencuci di mana? Di kamar mandi yang untuk jongkok saja sudah sangat sempit?”

Rumah tipe sederhana di pinggiran Bogor ini jelas tidak sesuai dengan standar Zayan. Sebagai pewaris jaringan bisnis hotel keluarga Hadinata, tempat tinggal Zayan tidak pernah lebih kecil dari seribu meter persegi. Kecuali tentu saja apartemen. Itu pun masih lebih luas dari rumah yang akan dibeli Rayna.

“Dapur bisa dibangun sendiri, Pak,” sela Dudi, sales perumahan Bukit Indah yang menemani mereka melihat rumah. “Masih ada halaman belakang yang bisa digunakan untuk dapur dan ruang cuci.”

“Nggak ada dapur juga nggak masalah, Yan. Aku jarang masak di rumah. Sudah capek masak di restoran. Soal cuci mencuci itu urusan gampang. Banyak laundry kiloan di ruko-ruko dekat gerbang masuk. Lebih praktis dan hemat daripada harus mencuci baju sendiri.”

Argumen Rayna sulit dibantah. Sebagai chef di restoran kecil yang menjual pasta dan pizza, hampir delapan jam sehari Rayna harus menghadapi panasnya kompor dan oven. Sungguh melelahkan. Karena itu di rumah ia jarang memasak. Hanya pada kesempatan istimewa, Rayna mau menunjukkan keahliannya mengolah bahan makanan.

“Masih ada tipe rumah yang lebih besar dari ini, Pak Dudi?” Zayan tetap tidak puas dengan ukuran rumah yang akan dibeli Rayna.

“Yan… rumah ini cukup. Aku nggak s**a rumah yang terlalu besar,” bujuk Rayna setengah tak sabar karena Zayan tetap keras kepala menganggap rumah ini terlalu kecil.

“Ada, Pak.” Dudi menjawab antusias. Buru-buru ia menunjukkan brosur pada Zayan. Sampai kacamatanya sedikit melorot. Rumah yang lebih besar harganya pasti lebih mahal. Komisi yang akan didapat Dudi dari menjual rumah jadi lebih banyak. “Ini kami punya rumah dengan luas bangunan tujuh puluh dua meter persegi. Luas tanah seratus delapan puluh meter persegi.”

“Nah yang ini lumayan, Na. Sudah ada ruang makan, dapur dan halaman belakangnya lebih luas. Bisa dipakai sebagai tempat jemuran dan taman kecil. Nanti kita buat kolam ikan dan pancuran di sana. Pasti bagus. Bisa kita lihat rumahnya, Pak?”

“Yang tipe besar nggak ready stock, Pak. Indent. Baru dibangun setelah akad kredit,” jelas Dudi.

“Indent berapa lama?”

Part 1
Novel Pintu Penghubung Dua Hati
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang Bunyi ketukan nyaring terdengar s...
11/10/2026

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang

Bunyi ketukan nyaring terdengar saat sepatu Serafina beradu dengan lantai semen. Bergegas dia menuju mobilnya yang terparkir rapi di sudut basement. Kantor Romantic Wedding Organizer miliknya berada di lantai duapuluh sembilan salah satu gedung perkantoran elite di Jakarta.

Sesekali Serafina menoleh ke belakang. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Agak horor juga berjalan sendirian malam-malam begini di basement yang sepi.

Jarum jam di pergelangan tangannya menunjuk tepat jam sepuluh. Sudah beberapa hari ini Serafina terpaksa p**ang malam. Tujuh hari lagi acara pernikahan Sonia Widjaja, puteri salah satu konglomerat di Indonesia. Tentu saja persiapannya tidak main-main.

Serafina turun tangan sendiri mengecek seluruh rencana acara. Semua harus berjalan sempurna. Tidak boleh ada yang meleset hingga mengecewakan kedua calon mempelai dan keluarganya.

Kalau dia sukses menggarap pernikahan Sonia, bisa dipastikan calon-calon pengantin dari kalangan the have akan berebut menggunakan jasa Romantic Wedding Organizer. Dan itu berarti uang akan mengalir deras ke dalam rekeningnya.

Di sisi mobilnya, Serafina terlonjak kaget mendengar dering ponselnya. Astaga, buru-buru dia merogoh tasnya. Mengaduk-aduk di antara pulpen, dompet, tisu, kunci apartemen, dan yak, ini dia benda yang sudah berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Tapi senyum langsung muncul di wajah Serafina setelah melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

“Halo sayang…” sapanya mesra sambil menekan kunci mobil. Bunyi bip pelan terdengar. Serafina merasa lebih aman setelah berada dalam mobil dan mengunci pintunya. Derum halus terdengar saat mesin mobil dinyalakan.

“Sudah dimana, sayang?” suara berat Taufan terdengar di seberang sana. “Aku baru mau jalan dari kantorku nih.”

“Sama d**g, Yang,” ucap Serafina sembari menekan tombol pengatur AC dan menyalakan musik. “Aku juga sudah di mobil nih.” Sekilas dia melirik kaca spion di atasnya, siap memundurkan mobil. “Agak ngeri juga malam-malam begini, sepi banget di basement.”

“Mau aku jemput?”

“Enggak usah lah, Fan. Malah semakin lama kalau kamu menjemput ke sini.”

“Ok, sayang,” ucap Taufan dengan mesra. “Hati-hati. Jangan ngebut.”

Serafina tertawa kecil. “Baiklah Tuan Taufan, tapi jangan salahkan kalau aku terlambat sampai sana gara-gara kecepatan mobilku hanya duapuluh kilometer per jam.”

Di seberang telepon sana Taufan ikut tertawa, “Tenang saja, aku akan sabar menunggu.”

“Bye, sayang…Muach,” kecup mesra Serafina menutup percakapannya dengan Taufan. Tergesa dia memasukkan ponsel ke dalam saku blazer-nya.

Saat ini Serafina merasa sedang berada di puncak kebahagiaan. Hubungannya dengan Taufan sedang hangat-hangatnya. Bisnis yang dimilikinya berkembang. Karir Taufan sebagai seorang eksekutif di perusahaan multinasional milik mertuanya pun mulai menanjak.

Tidak masalah walau dia hanya wanita kedua di hati Taufan. Posisi itu hanyalah status secara legal. Nyatanya Serafina merasakan cinta Taufan penuh untuknya. Isteri Taufan hanyalah wanita yang dinikahi untuk mendapatkan hartanya.

Mobil Serafina meluncur cepat membelah malam. Dia sangat menikmati menyetir di malam hari. Mobil sport hadiah dari Taufan memang dirancang untuk berlari kencang. Kondisi jalan raya di sore dan siang hari yang kerap macet jelas sangat tidak ideal untuk memacu mesin mobilnya.

Menjelang perempatan jalan, kaki Serafina menekan pedal gas semakin dalam. Mumpung lampu lalu-lintas hijau masih menyala. Serafina tidak mau terjebak lampu merah.

Yes! Serunya dalam hati karena berhasil mencapai perempatan saat lampu hijau belum berganti merah. Tapi tiba-tiba datang sorot lampu yang sangat terang dari sisi kirinya. Seperti dalam gerakan lambat, Serafina menyadari lampu itu berasal dari mobil lain yang melaju ke arahnya. Spontan Serafina memalingkan wajahnya.

Brakk!!!

Bab lengkap di KBM App

Novel Karma Sang Pelak or

Dewi_muliyawan

Address

Tangerang
Banten
15820

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Graha Kosmetik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Graha Kosmetik:

Shortcuts

Share