16/09/2026
Dia Pernah Membuat Surat Wasiat yang Menolak Segala Bentuk Perawatan Rumah Sakit—Sampai Dia Bertemu Fuda
Ketika benjolan di payudaranya terus membesar dan kulitnya mulai mengalami luka terbuka serta berdarah, reaksi pertama Ora bukanlah pergi ke rumah sakit, melainkan menyusun surat wasiat. Hal itu bermula dari ketakutan mendalam terhadap rumah sakit dan penolakan naluriah terhadap pengobatan modern.
Ora adalah wanita Thailand yang anggun dan tenang, namun lebih dari setahun yang lalu, sebuah benjolan yang muncul diam-diam di payudara kirinya merusak kedamaian hidupnya. Awalnya, ia menganggapnya sebagai masalah sepele. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kondisinya memburuk dengan cepat: cairan mulai keluar dari puting, benjolan itu membesar tanpa henti, kulit di sekitarnya mengalami luka terbuka dan berdarah, serta muncul beberapa benjolan kecil di ketiak kirinya yang terasa nyeri samar...
Meski begitu, Ora tetap menolak untuk pergi ke rumah sakit. Ia memilih untuk merawat lukanya sendiri dan mengonsumsi obat herbal Tiongkok. Dalam benaknya, pengobatan kanker modern identik dengan penggunaan obat-obatan dosis tinggi, efek samping yang parah, serta kenangan menyakitkan tentang kenalan yang meninggal dunia di tengah masa pengobatan. Ketakutan-ketakutan itu menumpuk menjadi tembok penghalang yang tak mampu ia tembus. Karena sangat takut bahwa pengobatannya mungkin akan jauh lebih menyiksa daripada penyakit itu sendiri, ia akhirnya menyerah, menulis surat wasiat, serta menyembunyikan luka maupun rasa takutnya dari sang suami.
Namun, ia tidak benar-benar sendirian. Melihat kekhawatiran mendalam di mata keluarganya, tekad kerasnya pun akhirnya goyah. Ia mulai mencari berbagai kemungkinan baru. Suatu hari, Ora dan suaminya menemukan informasi mengenai Guangzhou Fuda Cancer Hospital di Tiongkok serta membaca langsung pengalaman pasien lain. Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, ia menghubungi para dokter di kantor perwakilan rumah sakit tersebut di Thailand.
"Saya mengetahui bahwa filosofi mereka berfokus pada perawatan yang lembut dan minim tindakan invasif dengan efek samping yang relatif ringan, serta bahwa mereka memiliki spesialisasi di bidang onkologi," kenangnya. Meski merasa skeptis namun tetap menaruh harapan, ia berkemas dalam waktu dua hari lalu terbang ke Tiongkok. Ia membatin, "Mengapa tidak mencobanya saja? Skenario terburuknya, tidak ada hasil apa pun."
Pada bulan November 2025, Ora mendatangi Rumah Sakit Kanker Guangzhou Fuda untuk pertama kalinya. Saat itu, payudara kiri dan kulit di sekitarnya mengalami ulserasi luas, hilangnya jaringan, eritema, serta keluarnya darah dan cairan secara terus-menerus. Rasa sakitnya memburuk pada malam hari, dan sejumlah kelenjar getah bening di ketiaknya membengkak. Ia sangat terkejut saat hasil diagnosis menunjukkan kondisi yang jauh lebih parah daripada sekadar tumor lokal: kanker telah menyebar (bermetastasis) ke paru-paru, tulang, dan kelenjar getah bening, sementara luka terbukanya juga diperparah oleh infeksi bakteri yang resistan terhadap berbagai jenis obat (*multidrug-resistant*).
Alih-alih mundur, Ora justru menemukan kekuatan yang tak terduga. Tim medis mendengarkan kekhawatirannya dengan sabar, menjawab setiap pertanyaan secara tuntas, dan bekerja sama dengan sangat harmonis. Ketenangan dan kepercayaan diri mereka menjadi penopang yang hangat dan stabil, perlahan membangkitkan semangatnya dari keputusasaan.
Menghadapi kondisi Ora yang kompleks, tim segera mengatur konsultasi multidisiplin (MDT). Prioritas penanganan meliputi debridemen luka, penggantian balutan, manajemen nyeri, dan terapi anti-infeksi. Selanjutnya, untuk menentukan profil patologis, mereka melakukan biopsi jarum inti (*core needle biopsy*) pada massa di payudara kiri. Pemeriksaan patologi *frozen section* selama operasi mengonfirmasi adanya sel ganas, yang segera diikuti dengan krioablasi paliatif untuk meredakan gejala lokal. Hasil patologi pascaoperasi memberikan kejelasan lebih lanjut: karsinoma duktal invasif pada payudara kiri dengan profil ER (++), HER2 (+++), dan PR (-). Berdasarkan hal tersebut, tim menyusun terapi target yang disesuaikan secara khusus bagi pasien, dikombinasikan dengan kemoterapi, untuk mengendalikan perkembangan penyakit secara sistemik.
"Saya tidak mengalami mual atau muntah, ataupun ruam parah maupun reaksi alergi. Saya bisa makan seperti biasa," ungkap Ora. Meski sempat sangat mengkhawatirkan efek samping kemoterapi, kenyataannya ia hampir tidak mengalami satu pun hal buruk yang ia bayangkan sebelumnya. Hal ini dikarenakan ia tidak menjalani kemoterapi sistemik konvensional, melainkan kemoterapi infus intra-arteri intervensional. Dengan panduan pencitraan medis, obat disalurkan langsung ke arteri yang menyuplai darah ke tumor; metode ini memusatkan obat berkekuatan tinggi tepat di inti "medan pertempuran" sekaligus melindungi bagian tubuh lainnya. Berkat perawatan pencegahan yang cermat dari tim perawat, ia terhindar dari penderitaan fisik yang selama ini ia takuti.
Setelah enam siklus pengobatan, lesi payudara Ora menyusut secara signifikan, dan metastasis pada paru-paru, kelenjar getah bening, serta tulangnya berhasil dikendalikan. Pemindaian lanjutan menunjukkan pengendalian tumor sistemik yang sangat baik, sehingga ia mendapatkan penilaian keseluruhan berupa PR (*Partial Response* atau Respons Parsial), dengan rencana terapi target sebagai langkah pemeliharaan selanjutnya. Hal yang bahkan lebih mencolok dibandingkan hasil pemindaian CT adalah kondisi luka pada payudaranya—yang awalnya tampak sangat parah dan mengejutkan—kini berangsur menutup dan sembuh berkat perawatan yang intensif. Saat kembali ke Thailand, tim medis setempat merasa takjub; biasanya, luka separah itu membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk sembuh, namun luka Ora pulih hanya dalam waktu lima bulan. Kini, wajahnya memancarkan rona cerah dan hatinya dipenuhi harapan baru.
"Sebelum datang, saya dipenuhi keraguan. Namun setelah tiba, saya merasa seolah ada jendela baru yang terbuka saat menyaksikan langsung kehebatan pengobatan presisi," kenang Ora. Di matanya, tim medis Fuda tidak pernah terpaku kaku pada prosedur rutin; mereka benar-benar menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian, serta menyesuaikan pengobatan secara dinamis berdasarkan setiap perubahan fisiologis dan respons tubuhnya. Baginya, perjalanan ini lebih dari sekadar pengobatan medis—ini terasa seperti sebuah pendampingan yang hangat dan penuh ketulusan. Setiap kali kembali ke Fuda, rasanya bukan seperti mengunjungi rumah sakit, melainkan seperti bertemu dengan teman-teman lama.
Dikelilingi oleh kehangatan, hari-harinya berlalu dengan tenang dan pandangannya terhadap hidup pun menjadi lebih cerah. Ia merasa sangat bersyukur atas keputusan yang telah diambilnya. Terlebih lagi, ia bersyukur karena tidak pernah harus melangkah seorang diri—berkat dukungan tim profesional yang penuh welas asih, ia berhasil melewati malam yang paling kelam dan melangkah menuju fajar baru dalam hidupnya.