13/09/2026
Satu Atap, Dua Rahasia
Bab 1: Bab 1: Perjanjian di Bawah Satu Atap
Bab 1: Perjanjian di Bawah Satu Atap
Rintik hujan menghantam kaca jendela penthouse lantai dua puluh dua itu dengan irama yang monoton, seolah berusaha memecah keheningan mencekam di dalam ruangan. Di tengah ruang tamu yang didominasi warna abu-abu maskulin dan furnitur minimalis berharga selangit, dua orang manusia duduk berseberangan. Di atas meja marmer di antara mereka, tergeletak dua bendel dokumen identik dengan sampul biru tua.
Adrian Pradipta menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Matanya yang tajam, sedingin es kutub, menatap lurus ke arah wanita di depannya. Arini, wanita yang baru tiga jam lalu resmi menjadi istrinya di hadapan penghulu dan segelintir saksi, hanya menunduk. Jemari Arini yang ramping bertaut gelisah di atas pangkuan gaun pengantin sederhananya yang berbahan satin putih.
"Kau sudah membacanya dengan teliti?" suara Adrian memecah kesunyian. Suaranya rendah, bariton, dan tanpa emosi.
Arini mendongak sedikit, memberanikan diri menatap mata pria yang kini menjadi suaminya itu. "Sudah, Tuan Adrian."
"Jangan panggil aku 'Tuan' jika kita sedang di luar atau di depan keluarga," sela Adrian cepat. "Tapi di dalam rumah ini, kau boleh memanggilku apa pun yang kau s**a, asal jangan berharap aku akan bersikap layaknya suami yang penuh cinta."
Arini menelan ludah. Ia tahu sejak awal bahwa pernikahan ini bukanlah sebuah dongeng. Ini adalah transaksi. Sebuah solusi bagi masalah mereka masing-masing yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. "Saya mengerti. Saya sudah menyetujui semua poinnya."
Adrian memajukan tubuhnya, meraih pulpen fountain pen berlapis emas dari meja. Ia membuka halaman terakhir dokumen tersebut. "Mari kita ulas sekali lagi agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan. Pertama, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama dua belas bulan. Tidak lebih, tidak kurang."
Arini mengangguk pelan. "Satu tahun."
"Kedua," lanjut Adrian, ujung pulpennya mengetuk-ngetuk kertas. "Kita akan tinggal di bawah satu atap, tetapi di kamar yang berbeda. Aku memiliki privasiku, dan kau memiliki privasimu. Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku atau kamarku tanpa izin. Begitu juga sebaliknya, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu selama itu tidak mencoreng nama baik keluargaku."
Arini menarik napas panjang. Poin kedua ini sebenarnya sangat melegakannya. "Saya setuju. Saya juga membutuhkan ruang pribadi saya."
Adrian menatapnya sejenak, seolah mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan wanita itu di balik wajah tenangnya yang pucat. Namun, ia segera membuang muka dan melanjutkan. "Ketiga, tidak boleh ada keterlibatan emosional. Tidak ada cinta, tidak ada kecemburuan, dan tidak ada hubungan fisik. Jika salah satu dari kita melanggar poin ini, perjanjian batal dan pihak yang melanggar akan kehilangan hak-hak finansialnya."
Kalimat terakhir itu diucapkan Adrian dengan penekanan yang jelas. Arini tahu, bagi Adrian, ia hanyalah alat untuk memenuhi syarat warisan kakeknya yang kolot. Dan bagi Arini, Adrian adalah satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, sebuah beban yang nyaris menghancurkan hidupnya setahun terakhir.
"Saya mengerti sepenuhnya," jawab Arini dengan suara yang lebih mantap dari sebelumnya. "Saya tidak di sini untuk mencari cinta, Adrian."
Adrian tersenyum sinis, sebuah lengkungan tipis di bibirnya yang tidak mencapai matanya. "Bagus. Karena cinta adalah variabel yang paling merusak dalam sebuah bisnis. Dan pernikahan ini, Arini, adalah bisnis murni."
Adrian membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang tegas dan cepat. Ia menggeser dokumen itu ke arah Arini. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arini meraih pulpen tersebut. Ia menatap namanya sendiri yang bersanding dengan nama Adrian di atas kertas putih itu. Arini Saraswati dan Adrian Pradipta. Nama yang kini terikat secara hukum, namun terpisah secara batin oleh jurang yang sangat dalam.
Setelah Arini menandatangani kedua dokumen tersebut, Adrian mengambil satu bagian dan menyimpannya di dalam laci meja yang terkunci.
"Sekarang setelah semuanya resmi, ada satu hal lagi," ucap Adrian sambil berdiri. Ia berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang buram karena hujan. "Aku tahu kau setuju menikah denganku karena tawaran pelunasan hutang pengobatan ibumu dan biaya operasional panti asuhan yang kau kelola. Namun, aku tidak bodoh, Arini. Aku tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar uang yang kau cari."
Jantung Arini berdegup kencang. Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. "Maksud Anda?"
Adrian berbalik, melipat tangan di dada. Cahaya lampu ruangan membuat bayangannya jatuh memanjang dan mendominasi. "Ada ketakutan di matamu setiap kali kau melihat ke arah pintu keluar. Kau tidak hanya butuh uang, kau butuh perlindungan. Kau butuh nama 'Pradipta' untuk bersembunyi dari seseorang, bukan?"
Arini merasa udara di ruangan itu mendadak menipis. Rahasia pertama. Ia tidak menyangka Adrian akan seintuitif itu. "Setiap orang punya masa lalu yang ingin mereka tinggalkan, Adrian. Bukankah Anda juga begitu? Mengapa seorang pewaris takhta Pradipta Group harus menikahi wanita biasa sepertiku hanya demi syarat warisan, padahal Anda bisa memilih model atau anak pengusaha mana pun? Pasti ada alasan mengapa Anda memilih orang yang tidak dikenal, orang yang bisa Anda kendalikan dengan kontrak."
Kini giliran Adrian yang terdiam. Matanya menyipit, memancarkan aura berbahaya. Arini benar. Adrian memiliki rahasianya sendiri—alasan mengapa ia menjauhkan diri dari wanita-wanita di lingkungannya, alasan mengapa ia membangun dinding es di sekeliling hatinya yang hancur berkeping-keping lima tahun lalu.
"Kau cukup cerdik," gumam Adrian. "Satu hal yang harus kau ingat: di rumah ini, ada aturan tak tertulis. Jangan bertanya tentang apa yang ada di dalam laci meja kerjaku, dan jangan pernah bertanya siapa wanita di dalam foto kecil yang kusimpan di dompetku."
"Dan Anda juga jangan pernah bertanya mengapa saya selalu mengunci pintu kamar saya dari dalam, atau mengapa saya tidak pernah menerima telepon jika ada orang lain di dekat saya," balas Arini, seolah menantang.
Adrian mengangguk sekali, tanda setuju. "Adil. Kita satu atap, tapi kita punya rahasia masing-masing. Selama rahasiamu tidak membawa bahaya ke depan pintuku, aku tidak akan peduli."
"Terima kasih."
"Kamar tidurmu ada di ujung lorong sebelah kiri. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke sana tadi sore. Besok pagi, sopirku akan menjemputmu jam delapan untuk acara makan siang formal dengan kakekku. Pastikan kau berakting dengan baik. Kau harus terlihat seperti istri yang bahagia, atau setidaknya, istri yang patuh."
Arini berdiri, merapikan gaunnya. "Saya akan melakukan bagian saya dalam sandiwara ini."
"Selamat malam, Arini," ucap Adrian tanpa menoleh lagi. Ia kembali menatap hujan di luar.
"Selamat malam, Adrian."
Arini berjalan meninggalkan ruang tamu, langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai kayu ek. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, ia segera masuk dan mengunci pintu. Klik. Bunyi kunci itu seolah menjadi garis pembatas antara dunia luar dan dunianya sendiri.
Arini menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya memburu. Ia merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah ponsel kecil yang sudah tua—ponsel rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Di layarnya, ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Aku tahu kau di mana, Arini. Bersembunyi di balik nama besar tidak akan menyelamatkanmu selamanya.”
Tangan Arini bergetar hebat. Ia meremas ponsel itu erat-erat. Di sisi lain dinding kamar, di ruang tamu yang luas, Adrian masih berdiri terpaku. Ia mengeluarkan sebuah kalung perak dari sakunya, liontinnya berbentuk kunci kecil yang sudah kusam. Ia menatap benda itu dengan tatapan penuh luka dan kemarahan.
"Aku sudah melakukan apa yang mereka mau, Elena," bisik Adrian pada kesunyian. "Aku sudah menikah. Sekarang, biarkan aku menghancurkan mereka semua dari dalam."
Di bawah satu atap yang mewah itu, dua orang asing telah memulai permainan yang berbahaya. Mereka terikat oleh janji, terkunci oleh kontrak, namun tetap terpisah oleh rahasia yang masing-masing mereka simpan rapat. Hujan di luar semakin deras, seolah bersiap menyambut badai yang lebih besar yang akan segera menerjang kehidupan mereka berdua. Pernikahan ini baru saja dimulai, dan di rumah ini, kejujuran adalah barang paling mahal yang tidak sanggup mereka beli.